Mengapa Kerajaan Gowa Bisa Berkembang Menjadi Salah Satu Kerajaan Terkuat di Sulawesi Selatan?

Sejarah - Jika membicarakan kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Selatan, nama Kerajaan Gowa hampir selalu berada di barisan terdepan. Kerajaan yang berpusat di wilayah selatan Sulawesi ini bukan hanya dikenal karena kekuatan militernya, tetapi juga karena kemampuannya membangun jaringan perdagangan, mengembangkan pelabuhan, memperluas pengaruh politik, serta memainkan peran penting dalam perubahan sejarah kawasan timur Nusantara. Pada masa kejayaannya, pengaruh Gowa bahkan tidak lagi terbatas pada wilayah inti kerajaan, tetapi menjangkau berbagai daerah melalui hubungan politik, perdagangan, dan kekuatan bersenjata.

Namun, muncul pertanyaan menarik: mengapa Gowa bisa berkembang sedemikian kuat, sementara di Sulawesi Selatan sendiri terdapat banyak kerajaan lain yang juga memiliki kekuasaan dan tradisi politik yang panjang? Jawabannya tidak dapat dijelaskan hanya dengan mengatakan bahwa Gowa memiliki pasukan yang kuat. Kekuatan sebuah kerajaan pada masa itu merupakan hasil dari perpaduan antara kondisi geografis, kemampuan menguasai jalur perdagangan, strategi politik, organisasi pemerintahan, hubungan dengan kerajaan lain, hingga kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Sejarawan William Cummings, yang banyak meneliti sejarah Gowa dan masyarakat Makassar, menunjukkan bahwa sejarah Gowa perlu dilihat sebagai proses perubahan politik yang panjang, bukan sebagai kisah sebuah kerajaan yang tiba-tiba menjadi besar. Dalam kajiannya mengenai sejarah Gowa, perkembangan kerajaan tersebut berkaitan erat dengan perubahan masyarakat, perdagangan, politik antarkerajaan, dan pembentukan kekuasaan yang semakin kompleks.

Karena itu, jika ingin memahami mengapa Gowa dapat menjadi salah satu kerajaan terkuat di Sulawesi Selatan, kita perlu melihat beberapa faktor yang saling berkaitan.
 
1. Letak Geografis Gowa Memberikan Modal Awal yang Sangat Penting
Salah satu faktor yang sering luput ketika membahas kejayaan kerajaan adalah geografi. Gowa berkembang di kawasan yang memiliki hubungan erat dengan wilayah pesisir dan pedalaman, sementara kawasan Makassar di sekitarnya kemudian berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas perdagangan penting. Posisi tersebut memberikan peluang bagi Gowa untuk memperoleh akses terhadap hasil pertanian dari daerah pedalaman sekaligus berhubungan dengan dunia perdagangan maritim yang semakin ramai.

Dalam masyarakat agraris-maritim seperti Sulawesi Selatan, penguasaan terhadap sumber pangan dan akses menuju jalur perdagangan merupakan kombinasi yang sangat strategis. Kerajaan yang hanya menguasai wilayah pertanian mungkin memiliki sumber daya pangan tetapi belum tentu mampu mengendalikan perdagangan, sementara kerajaan yang hanya bergantung pada perdagangan pesisir dapat menjadi rentan ketika akses terhadap pasokan dari pedalaman terganggu. Gowa memiliki kesempatan untuk mengembangkan hubungan antara kedua lingkungan tersebut, sehingga kekuatan ekonominya tidak hanya bertumpu pada satu sumber.

Sejarawan Leonard Y. Andaya dalam berbagai kajiannya mengenai dunia Bugis-Makassar menunjukkan bahwa Sulawesi Selatan pada masa awal modern merupakan kawasan dengan interaksi politik dan ekonomi yang sangat dinamis. Hubungan antara kerajaan-kerajaan di kawasan ini tidak hanya ditentukan oleh batas wilayah, tetapi juga oleh perdagangan, migrasi, perang, aliansi, dan jaringan antarpelabuhan. Dalam lingkungan seperti itu, posisi geografis Gowa menjadi modal penting untuk membangun pengaruh yang lebih luas.
 
2. Perdagangan Membuat Gowa Memiliki Sumber Daya untuk Memperkuat Kerajaan
Kekuatan politik hampir selalu membutuhkan fondasi ekonomi. Sebuah kerajaan membutuhkan pangan untuk mempertahankan penduduk dan tentaranya, sumber daya untuk menjalankan pemerintahan, serta jaringan perdagangan untuk memperoleh barang yang tidak tersedia di wilayah sendiri. Dalam konteks Gowa, perkembangan perdagangan membuat kerajaan ini memperoleh kesempatan untuk memperbesar kapasitas ekonominya.

Anthony Reid, sejarawan yang terkenal melalui kajiannya mengenai Asia Tenggara pada masa perdagangan, menjelaskan betapa pentingnya perdagangan maritim bagi perubahan politik di kawasan Asia Tenggara pada sekitar abad ke-15 hingga ke-17. Periode tersebut sering disebut sebagai bagian dari masa Age of Commerce, ketika jaringan perdagangan regional mengalami perkembangan pesat dan pelabuhan-pelabuhan tertentu tumbuh menjadi pusat pertemuan pedagang dari berbagai wilayah.

Gowa berada dalam lingkungan perdagangan tersebut. Ketika pelabuhan Makassar berkembang, wilayah ini semakin penting bagi pedagang yang bergerak di antara kepulauan Indonesia, Maluku, Jawa, Nusa Tenggara, hingga kawasan yang lebih jauh. Posisi Makassar kemudian memberikan Gowa keuntungan strategis karena aktivitas ekonomi pelabuhan dapat mendukung kekuatan politik kerajaan.

Perdagangan juga menghasilkan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar kekayaan, yaitu informasi dan jaringan. Pedagang membawa berita mengenai kondisi politik berbagai wilayah, harga komoditas, konflik antarkerajaan, perkembangan pelayaran, hingga perubahan hubungan kekuasaan. Dengan menjadi pusat perdagangan, Gowa dapat berada dalam arus informasi yang jauh lebih luas dibandingkan kerajaan yang lebih terisolasi.
 
3. Gowa Mampu Mengembangkan Hubungan antara Pedalaman dan Pesisir
Kekuatan Gowa tidak dapat dipisahkan dari hubungannya dengan wilayah sekitar. Kerajaan ini tidak hanya membutuhkan pelabuhan dan perdagangan, tetapi juga membutuhkan sumber daya dari wilayah pedalaman. Hubungan antara pusat kekuasaan dan daerah-daerah di sekitarnya kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam proses konsolidasi kerajaan.

William Cummings, dalam penelitian mengenai Gowa, banyak membahas bagaimana perubahan politik di kerajaan tersebut berkaitan dengan proses pembentukan negara dan hubungan antara berbagai komunitas. Gowa berkembang bukan hanya karena memiliki pusat pemerintahan, melainkan karena mampu membangun sistem hubungan politik yang memungkinkan pengaruh pusat menjangkau wilayah yang lebih luas.

Dalam konteks tersebut, penguasaan atau pengaruh terhadap wilayah sekitar memberikan keuntungan ganda. Kerajaan memperoleh akses terhadap sumber pangan dan komoditas, sementara pusat kekuasaan dapat memperluas basis penduduk serta sumber daya yang dapat digunakan untuk kepentingan politik dan militer. Semakin luas jaringan yang berada di bawah pengaruh kerajaan, semakin besar pula kapasitas yang dapat dikerahkan ketika menghadapi persaingan dengan kekuatan lain.

Namun, hubungan tersebut tidak selalu berbentuk penguasaan langsung. Dalam dunia politik Sulawesi Selatan, terdapat berbagai bentuk hubungan antarkerajaan dan komunitas, mulai dari aliansi, perjanjian, hubungan patronase, hingga konflik. Karena itu, perkembangan Gowa lebih tepat dipahami sebagai proses membangun jaringan kekuasaan daripada sekadar memperluas garis batas wilayah.
 
4. Peran Karaeng Tumapa'risi' Kallonna dalam Penguatan Gowa
Dalam sejarah Gowa, terdapat sejumlah tokoh yang sering dianggap penting dalam proses perubahan kerajaan menjadi kekuatan yang lebih besar. Salah satunya adalah Karaeng Tumapa'risi' Kallonna, yang secara tradisional ditempatkan pada periode penting dalam perkembangan politik Gowa pada abad ke-16.

Dalam Lontara, sejumlah perubahan besar dikaitkan dengan masa pemerintahan para karaeng Gowa. Salah satu perkembangan yang sering disebut adalah semakin kuatnya organisasi kerajaan dan ekspansi pengaruh Gowa terhadap wilayah sekitarnya. Meskipun sumber tradisional seperti Lontara perlu dibaca secara kritis dan dibandingkan dengan sumber lain, catatan tersebut tetap penting untuk memahami bagaimana masyarakat kemudian mengingat proses pembentukan kekuasaan Gowa.

Pada masa perkembangan tersebut, Gowa semakin mampu membangun struktur kekuasaan yang lebih terorganisasi. Perubahan ini penting karena kerajaan yang ingin memperluas pengaruh tidak cukup hanya mempunyai seorang penguasa yang kuat. Dibutuhkan struktur pemerintahan, hubungan dengan bangsawan, mekanisme pengumpulan sumber daya, serta kemampuan mengatur wilayah yang semakin luas.

Dari sinilah terlihat bahwa kejayaan Gowa merupakan hasil dari proses institusionalisasi kekuasaan. Kerajaan tidak hanya bergantung pada kemampuan individu penguasanya, tetapi mulai membangun sistem yang memungkinkan kekuasaan bertahan dan berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
 
5. Gowa Memiliki Tradisi Politik dan Militer yang Kuat
Ketika perdagangan berkembang, persaingan antarkerajaan juga tidak dapat dihindari. Jalur perdagangan memiliki nilai ekonomi yang sangat besar sehingga siapa pun yang mampu mengendalikan akses terhadapnya akan memperoleh keuntungan politik. Dalam kondisi seperti itu, Gowa membutuhkan kemampuan militer untuk melindungi kepentingannya sekaligus menghadapi kerajaan-kerajaan pesaing.

Thomas Gibson, antropolog yang banyak meneliti masyarakat Sulawesi Selatan, menunjukkan pentingnya struktur sosial dan politik dalam memahami hubungan kekuasaan di kawasan tersebut. Dalam masyarakat yang memiliki tradisi politik kuat, hubungan antara elite, kelompok masyarakat, wilayah, dan kerajaan membentuk jaringan yang dapat dimobilisasi ketika terjadi konflik.

Kekuatan militer Gowa kemudian menjadi salah satu instrumen utama dalam memperluas pengaruh. Akan tetapi, penting untuk tidak melihat militer Gowa semata-mata sebagai pasukan yang melakukan penaklukan. Dalam politik kerajaan tradisional, kekuatan militer juga berfungsi sebagai alat diplomasi. Kerajaan yang memiliki kekuatan militer besar mempunyai posisi tawar lebih tinggi ketika melakukan negosiasi dengan kerajaan lain.

Kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena Sulawesi Selatan merupakan kawasan dengan banyak kekuatan politik. Gowa harus berhadapan dengan kerajaan seperti Bone, Wajo, Soppeng, dan berbagai kerajaan lainnya dalam situasi yang terus berubah. Hubungan antarkerajaan bisa menjadi persahabatan pada satu masa dan konflik pada masa lainnya, bergantung pada kepentingan politik dan ekonomi masing-masing.
 
6. Gowa Berhasil Memanfaatkan Posisi Makassar sebagai Pusat Perdagangan
Salah satu titik balik terbesar dalam sejarah Gowa adalah perkembangan Makassar sebagai pelabuhan internasional. Letaknya yang strategis menjadikan Makassar tempat persinggahan kapal dan pedagang dari berbagai wilayah Nusantara. Ketika jaringan perdagangan semakin berkembang, nilai strategis kawasan tersebut ikut meningkat.

Anthony Reid menempatkan Makassar sebagai salah satu pelabuhan penting dalam dinamika perdagangan Asia Tenggara pada masa awal modern. Pedagang dari berbagai wilayah dapat bertemu di kawasan ini, sementara komoditas dari kepulauan timur dapat bergerak melalui jaringan perdagangan yang lebih luas.

Keuntungan Gowa bukan hanya karena barang dagangan melewati wilayahnya, tetapi juga karena perdagangan menciptakan kosmopolitanisme. Masyarakat Makassar berinteraksi dengan pedagang dari berbagai daerah dan latar belakang. Orang Melayu, Jawa, Portugis, Arab, serta kelompok lainnya hadir dalam jaringan perdagangan Makassar pada periode yang berbeda. Interaksi tersebut memperluas wawasan maritim dan jaringan internasional Gowa.

Kondisi tersebut membuat Gowa berbeda dari kerajaan yang hanya berorientasi pada wilayah daratan. Gowa berkembang menjadi kekuatan yang memiliki orientasi maritim, dan kemampuan tersebut sangat penting dalam menghadapi dunia perdagangan abad ke-16 dan ke-17.
 
7. Sultan Alauddin Mengubah Arah Sejarah Gowa
Perubahan besar lainnya terjadi ketika I Mangngarangi Daeng Manrabia naik takhta dan kemudian dikenal sebagai Sultan Alauddin setelah menerima Islam. Peristiwa ini berlangsung pada awal abad ke-17 dan menjadi salah satu titik penting dalam sejarah Gowa.

Gowa menerima Islam melalui hubungan dengan dunia Melayu dan tokoh-tokoh ulama yang datang ke Sulawesi Selatan. Dalam tradisi sejarah Makassar, proses Islamisasi Gowa dikaitkan dengan kedatangan Dato' ri Bandang, bersama tokoh lain yang dikenal dalam tradisi sebagai Dato' ri Tiro dan Dato' ri Pattimang. Sultan Alauddin kemudian menjadikan Islam sebagai agama kerajaan.

Menurut Christian Pelras, antropolog Prancis yang sangat terkenal karena kajiannya tentang masyarakat Bugis, proses Islamisasi Sulawesi Selatan tidak dapat dipahami hanya sebagai perubahan keyakinan pribadi para penguasa. Islamisasi juga memiliki konsekuensi sosial dan politik karena kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan kemudian masuk ke dalam jaringan dunia Islam yang lebih luas.

Bagi Gowa, penerimaan Islam memberikan dimensi baru terhadap hubungan politik dan perdagangan. Makassar semakin terhubung dengan jaringan Muslim di Nusantara, termasuk pedagang dan komunitas dari berbagai wilayah. Perubahan ini turut memperkuat posisi Gowa sebagai salah satu pusat perdagangan penting di kawasan timur Nusantara.
 
8. Sultan Hasanuddin Muncul ketika Gowa Berada di Puncak Persaingan
Nama Sultan Hasanuddin menjadi salah satu simbol paling terkenal dari sejarah Gowa. Ia memerintah pada periode ketika Gowa menghadapi tekanan besar dari VOC dan konflik yang melibatkan kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan. Julukannya sebagai Ayam Jantan dari Timur kemudian menjadi bagian kuat dari ingatan sejarah Indonesia.

Namun, memahami Sultan Hasanuddin hanya sebagai pahlawan yang berperang melawan Belanda akan membuat konteks sejarahnya menjadi terlalu sederhana. Konflik yang terjadi pada abad ke-17 merupakan bagian dari persaingan yang jauh lebih luas mengenai perdagangan, kekuasaan, dan hubungan antarkerajaan.

Leonard Y. Andaya, dalam The Heritage of Arung Palakka, menunjukkan bahwa konflik Gowa, Bone, VOC, dan kekuatan lainnya harus dilihat melalui hubungan politik yang kompleks. Arung Palakka dari Bone memiliki kepentingan politiknya sendiri terhadap Gowa, sementara VOC memiliki kepentingan besar dalam mengendalikan perdagangan di kawasan timur Nusantara, terutama perdagangan yang berkaitan dengan rempah-rempah.

Karena itu, Perang Makassar bukan sekadar cerita "Gowa melawan Belanda". Di dalamnya terdapat persaingan Gowa-Bone, kepentingan VOC, politik lokal, dan perebutan kendali atas jaringan perdagangan. Kompleksitas inilah yang membuat periode tersebut sangat penting dalam memahami sejarah Sulawesi Selatan.

Mengapa VOC Sangat Menginginkan Kendali atas Makassar?
Jika Gowa bukan kekuatan ekonomi yang penting, VOC tentu tidak perlu mengeluarkan sumber daya besar untuk memaksakan kepentingannya di Makassar. Salah satu alasan utama VOC berusaha mengubah tatanan perdagangan Makassar adalah karena pelabuhan tersebut memberikan ruang bagi perdagangan bebas yang sulit dikendalikan oleh monopoli VOC.

Makassar memiliki posisi yang sangat strategis karena pedagang dari berbagai wilayah dapat melakukan transaksi di sana. Kondisi tersebut bertentangan dengan kepentingan VOC yang ingin memperoleh kontrol lebih kuat terhadap perdagangan komoditas tertentu, terutama rempah-rempah dari Maluku.

Anthony Reid menunjukkan bahwa kebijakan monopoli VOC harus dilihat dalam konteks persaingan perdagangan Asia pada masa itu. VOC bukan sekadar perusahaan dagang biasa, tetapi memiliki kemampuan militer dan politik yang memungkinkan perusahaan tersebut memaksakan kepentingannya di berbagai wilayah.

Gowa menjadi salah satu kekuatan yang menghalangi ambisi tersebut. Dengan mempertahankan Makassar sebagai pelabuhan terbuka bagi pedagang dari berbagai wilayah, Gowa pada dasarnya mempertahankan model perdagangan yang bertentangan dengan sistem monopoli VOC. Karena itu, konflik antara Gowa dan VOC memiliki dimensi ekonomi yang sangat kuat.

Perjanjian Bongaya Menunjukkan Besarnya Tekanan terhadap Gowa
Puncak konflik tersebut terjadi dalam rangkaian Perang Makassar yang kemudian berakhir dengan Perjanjian Bongaya pada 1667, yang dalam perkembangan berikutnya diperkuat oleh konflik lanjutan dan perjanjian setelahnya. Dalam sejarah Indonesia, perjanjian ini sering dipahami sebagai titik penting yang mengubah posisi Gowa dalam politik Sulawesi Selatan.

Kedudukan VOC semakin kuat setelah Gowa mengalami tekanan militer dan politik, sementara kekuatan Bone di bawah Arung Palakka memainkan peran penting dalam konflik tersebut. Fort Rotterdam, yang kemudian menjadi salah satu peninggalan sejarah paling terkenal di Makassar, menjadi simbol kuat dari perubahan keseimbangan kekuasaan setelah konflik.

Namun, kekalahan dalam perang tersebut tidak berarti bahwa seluruh warisan politik Gowa menghilang. Struktur masyarakat, identitas budaya, bahasa, tradisi maritim, dan memori sejarah Gowa tetap bertahan dan bahkan menjadi bagian penting dari identitas Sulawesi Selatan hingga sekarang.

Dari perspektif sejarah, justru kemampuan Gowa untuk bertahan sebagai kekuatan politik dan budaya setelah mengalami tekanan besar menunjukkan bahwa kerajaan tersebut memiliki fondasi sosial yang jauh lebih kuat daripada sekadar kekuatan militer seorang sultan.

Gowa Kuat karena Memiliki Tradisi Maritim yang Sangat Menonjol
Salah satu alasan Gowa mampu memainkan peranan besar di kawasan timur Nusantara adalah kemampuan maritim masyarakat Makassar. Laut bagi masyarakat pesisir Sulawesi Selatan bukan sekadar batas geografis, tetapi merupakan ruang ekonomi, komunikasi, dan mobilitas.

Kapal pinisi, yang kemudian menjadi salah satu simbol maritim Sulawesi Selatan, memang memiliki sejarah perkembangan teknologi dan tradisi pembuatan kapal yang panjang. Dalam konteks sejarah Gowa-Makassar, kemampuan pelayaran memungkinkan masyarakatnya bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain, melakukan perdagangan, membangun jaringan, dan memahami kondisi berbagai kawasan.

Christian Pelras dalam The Bugis menunjukkan betapa kuatnya tradisi maritim masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya orang Bugis dan Makassar. Kemampuan berlayar dan berdagang kemudian menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat Sulawesi Selatan jauh melampaui batas kerajaan asal mereka.

Kemampuan maritim tersebut memberikan Gowa keunggulan strategis. Kerajaan tidak hanya bergantung pada sumber daya lokal, tetapi dapat berhubungan dengan jaringan ekonomi yang lebih luas. Dalam dunia perdagangan maritim, kemampuan untuk mengirim orang, barang, informasi, dan kekuatan dengan cepat merupakan aset politik yang sangat besar.
 
Kekuatan Gowa Tidak Berdiri Sendiri, tetapi Berhadapan dengan Kerajaan-Kerajaan Besar Lain
Penting untuk memahami bahwa menyebut Gowa sebagai salah satu kerajaan terkuat bukan berarti Gowa selalu menjadi kekuatan yang tidak terkalahkan. Sulawesi Selatan memiliki sejumlah kerajaan dengan kekuatan dan tradisi politik masing-masing, terutama Bone, Wajo, dan Soppeng yang kemudian dikenal dalam konteks sejarah sebagai bagian dari kekuatan besar di kawasan.

Hubungan antara Gowa dan Bone menjadi salah satu contoh paling penting. Kedua kerajaan tersebut mengalami periode kerja sama dan konflik, sementara kepentingan politik masing-masing berubah mengikuti perkembangan zaman. Ketika konflik Gowa-Bone kemudian bertemu dengan kepentingan VOC, keseimbangan politik Sulawesi Selatan berubah secara drastis.

Leonard Y. Andaya menekankan pentingnya memahami perspektif berbagai pihak dalam sejarah Sulawesi Selatan. Sejarah kawasan tersebut tidak dapat dijelaskan hanya melalui sudut pandang Gowa atau hanya dari sudut pandang VOC. Bone, Wajo, Soppeng, dan berbagai kelompok lainnya memiliki kepentingan serta pengalaman sejarah masing-masing.

Karena itu, kebesaran Gowa justru semakin terlihat ketika kita memahami siapa saja pesaingnya. Gowa berkembang dalam lingkungan politik yang kompetitif dan harus terus membangun kekuatan ekonomi, militer, diplomasi, serta jaringan sosial agar dapat mempertahankan posisinya.
 
Kerajaan Gowa Salah Satu Kerajaan Terkuat di Sulawesi Selatan
Kerajaan Gowa dapat berkembang menjadi salah satu kerajaan terkuat di Sulawesi Selatan bukan karena satu faktor tunggal. Letak geografis yang strategis, perkembangan perdagangan Makassar, hubungan dengan wilayah pedalaman, kemampuan maritim, organisasi politik, kekuatan militer, diplomasi, serta Islamisasi semuanya saling berhubungan dalam membentuk kekuatan Gowa.

Pandangan William Cummings, Leonard Y. Andaya, Anthony Reid, Christian Pelras, dan Thomas Gibson membantu memperlihatkan bahwa sejarah Gowa merupakan bagian dari dinamika yang jauh lebih luas. Gowa tidak berkembang dalam ruang kosong, tetapi berada di tengah jaringan perdagangan dan persaingan kerajaan yang menghubungkan Sulawesi Selatan dengan Jawa, Maluku, Melayu, Nusa Tenggara, dan dunia perdagangan Asia Tenggara.

Yang membuat Gowa begitu penting dalam sejarah adalah kemampuannya mengubah posisi geografis menjadi kekuatan ekonomi, kemudian mengubah kekuatan ekonomi menjadi pengaruh politik dan militer. Makassar menjadi pintu perdagangan, perdagangan menghasilkan sumber daya dan jaringan, jaringan memperkuat posisi politik, sementara kekuatan politik memungkinkan Gowa mempertahankan kepentingannya di tengah persaingan kerajaan-kerajaan lain.

Pada akhirnya, kejayaan Gowa bukan sekadar cerita tentang peperangan antara Sultan Hasanuddin dan VOC. Jauh sebelum Perang Makassar, terdapat proses panjang pembentukan kerajaan, perkembangan perdagangan, konsolidasi politik, ekspansi pengaruh, Islamisasi, dan pertumbuhan tradisi maritim yang menjadikan Gowa sebuah kekuatan besar. Bahkan setelah mengalami kekalahan dalam konflik abad ke-17, warisan Gowa tidak berhenti. Jejak sejarahnya masih dapat ditemukan dalam tradisi masyarakat Makassar, warisan maritim, situs-situs sejarah, naskah lontara, serta ingatan kolektif masyarakat Sulawesi Selatan hingga hari ini.

Penulis : Andi Tenri Angka

Lebih baru Lebih lama