🌐
Translate this article
Choose your preferred language

Apa Arti Siri’ Na Pacce dalam Budaya Bugis dan Mengapa Dianggap Penting?

Adat dan Budata - Siri’ na pacce merupakan salah satu konsep nilai yang sangat penting dalam kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya dalam lingkungan Bugis-Makassar. Istilah ini sering diterjemahkan secara sederhana sebagai harga diri dan solidaritas atau rasa empati, tetapi maknanya sebenarnya jauh lebih luas karena berkaitan dengan cara seseorang memandang kehormatan, tanggung jawab, hubungan sosial, keberanian, serta kewajiban untuk menjaga martabat diri dan kelompoknya. Karena itu, memahami siri’ na pacce tidak cukup hanya dengan menerjemahkan dua kata tersebut ke dalam bahasa Indonesia, melainkan perlu melihat bagaimana nilai itu bekerja dalam kehidupan masyarakat.

Dalam kehidupan masyarakat Bugis, siri’ bukan sekadar perasaan malu ketika seseorang melakukan kesalahan. Siri’ berkaitan dengan kesadaran bahwa manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga melalui perilaku yang benar, perkataan yang dapat dipercaya, keberanian mempertanggungjawabkan tindakan, serta kemampuan menempatkan diri secara pantas di tengah masyarakat. Sementara itu, pacce menggambarkan kepekaan terhadap penderitaan orang lain dan dorongan untuk membantu ketika seseorang menghadapi kesulitan. Dengan demikian, siri’ dan pacce dapat dipahami sebagai dua nilai yang saling melengkapi: seseorang menjaga kehormatan dirinya, tetapi pada saat yang sama tidak boleh kehilangan kepedulian terhadap sesama.

Menariknya, konsep tersebut tidak hanya menjadi bahan pembicaraan dalam tradisi lisan, tetapi juga telah menjadi objek penelitian akademik, antropologi, hukum, pendidikan, hingga kajian mengenai karakter dan identitas masyarakat Sulawesi Selatan. Sejumlah penelitian mengenai masyarakat Bugis-Makassar menunjukkan bahwa nilai siri’ berkaitan erat dengan konstruksi kehormatan dan hubungan sosial, sedangkan pacce memperlihatkan dimensi solidaritas yang membuat kehidupan bersama tetap memiliki ikatan moral.

Lantas, apa sebenarnya arti siri’ na pacce dalam budaya Bugis dan mengapa nilai tersebut dianggap begitu penting? Jawabannya menjadi lebih menarik ketika siri’ na pacce tidak dipandang sebagai semboyan budaya semata, tetapi sebagai sistem nilai yang selama berabad-abad ikut membentuk cara masyarakat memahami harga diri, hubungan antarmanusia, dan tanggung jawab sosial.
 
Apa Arti Siri’ Na Pacce dalam Budaya Bugis?
Secara umum, siri’ dapat dipahami sebagai kehormatan, harga diri, rasa malu, dan kesadaran moral yang membuat seseorang berusaha menjaga martabatnya di hadapan dirinya sendiri maupun masyarakat. Namun, menerjemahkan siri’ hanya sebagai "malu" dapat menimbulkan kesalahpahaman karena dalam konteks kebudayaan Bugis, siri’ memiliki dimensi yang jauh lebih kompleks. Siri’ dapat menjadi kekuatan moral yang mendorong seseorang untuk berperilaku jujur, menepati janji, mempertahankan kehormatan keluarga, bekerja keras, serta tidak melakukan tindakan yang dianggap merendahkan martabat manusia. Dengan kata lain, siri’ bukan hanya tentang bagaimana seseorang merasa ketika dipermalukan, tetapi juga tentang standar perilaku yang membuat seseorang layak dihormati.

Dalam tradisi masyarakat Bugis, kehormatan tidak berdiri sendiri sebagai sesuatu yang bersifat individual. Perilaku seseorang dapat memberikan dampak kepada keluarga dan lingkungan sosialnya sehingga tindakan pribadi sering kali dipandang memiliki konsekuensi sosial yang lebih luas. Karena itulah, siri’ dapat berfungsi sebagai mekanisme pengendalian diri sebelum seseorang melakukan suatu tindakan. Seseorang yang memegang teguh siri’ idealnya akan berpikir mengenai akibat moral dari tindakannya, bukan semata-mata mengenai apakah tindakan tersebut menguntungkan dirinya atau tidak.

Sementara itu, pacce berkaitan dengan perasaan sepenanggungan, empati, kepedulian, dan kesediaan merasakan penderitaan orang lain. Dalam pemahaman masyarakat Sulawesi Selatan, pacce membuat seseorang tidak bersikap masa bodoh ketika melihat orang lain mengalami kesulitan. Nilai ini dapat terlihat dalam berbagai bentuk kehidupan sosial, mulai dari membantu keluarga yang tertimpa musibah, memberikan dukungan kepada tetangga yang menghadapi persoalan, hingga ikut bergotong royong ketika suatu komunitas menghadapi keadaan sulit. Pacce dengan demikian memiliki fungsi sosial karena mengubah kepedulian yang semula berada dalam perasaan menjadi tindakan nyata.

Karena itu, ketika kedua konsep tersebut digabungkan menjadi siri’ na pacce, yang muncul bukan sekadar konsep mengenai rasa malu dan rasa iba. Siri’ memberikan fondasi mengenai bagaimana seseorang menjaga kehormatan dan martabat, sedangkan pacce memberikan dorongan agar kehormatan tersebut tidak membuat seseorang menjadi individualistis. Orang yang menjaga siri’ tetapi tidak memiliki pacce dapat kehilangan kepekaan terhadap penderitaan orang lain, sedangkan kepedulian tanpa siri’ dapat kehilangan pijakan moral mengenai tanggung jawab dan kehormatan. Keduanya menjadi penting justru karena saling menyeimbangkan antara harga diri dan kepedulian sosial.
 
Mengapa Siri’ Dianggap Sangat Penting bagi Orang Bugis?
Salah satu alasan siri’ memiliki posisi penting adalah karena nilai tersebut berhubungan langsung dengan martabat seseorang. Dalam masyarakat yang memiliki ikatan sosial kuat, reputasi bukan sekadar persoalan citra pribadi, tetapi juga berkaitan dengan kepercayaan orang lain. Orang yang dikenal dapat dipercaya, memegang perkataan, bertanggung jawab, dan mampu menjaga perilakunya akan memperoleh penghormatan sosial. Sebaliknya, tindakan yang dianggap merusak kehormatan dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan dan menimbulkan konsekuensi sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa malu pribadi.

Kajian antropologi mengenai masyarakat Bugis telah lama menunjukkan bahwa konsep kehormatan memiliki posisi sentral dalam struktur hubungan sosial. Salah satu antropolog yang sangat penting dalam pembahasan ini adalah Christian Pelras, penulis The Bugis, yang menggambarkan masyarakat Bugis sebagai masyarakat dengan sistem nilai, hubungan sosial, dan tradisi yang sangat kompleks. Dalam pembahasannya, persoalan kehormatan dan siri’ tidak dapat dilepaskan dari cara orang Bugis memandang status sosial, hubungan antarmanusia, keberanian, serta kewajiban mempertahankan martabat. Pandangan Pelras penting karena memperlihatkan bahwa siri’ bukan fenomena sederhana yang dapat dipahami hanya dengan definisi kamus.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, nilai siri’ dapat berfungsi sebagai pengendali perilaku. Ketika seseorang menyadari bahwa tindakannya dapat mempermalukan dirinya atau keluarganya, kesadaran tersebut dapat mendorongnya untuk mempertimbangkan kembali keputusan yang hendak diambil. Dalam perspektif ini, siri’ memiliki fungsi yang mirip dengan norma sosial karena membantu masyarakat menentukan perilaku apa yang dianggap pantas dan tidak pantas. Bedanya, kekuatan siri’ terutama bekerja melalui kesadaran moral dan kehormatan yang telah tertanam dalam diri seseorang.

Namun, siri’ juga perlu dipahami secara hati-hati karena terdapat perbedaan antara siri’ sebagai nilai kehormatan dan penggunaan konsep siri’ untuk membenarkan tindakan kekerasan atau balas dendam. Dalam masyarakat modern, nilai kehormatan tidak semestinya diterjemahkan sebagai alasan untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain. Justru, jika siri’ dipahami sebagai kehormatan yang berlandaskan moral, maka mempertahankan kehormatan seharusnya dilakukan melalui cara yang bermartabat, bertanggung jawab, dan tidak melanggar hukum. Pemahaman semacam ini penting agar nilai budaya tetap hidup tanpa disalahgunakan untuk membenarkan tindakan yang merugikan orang lain.
 
Pacce: Mengapa Rasa Seperasaan Menjadi Bagian Penting dari Kehidupan Sosial?
Jika siri’ lebih banyak berbicara mengenai kehormatan, pacce memperlihatkan sisi kemanusiaan dari hubungan sosial. Pacce mengandung gagasan bahwa penderitaan seseorang bukan sesuatu yang sepenuhnya harus ditanggung sendirian karena orang lain mempunyai kewajiban moral untuk menunjukkan kepedulian. Dalam kehidupan masyarakat, nilai tersebut dapat menjadi perekat ketika seseorang mengalami musibah, kehilangan anggota keluarga, kesulitan ekonomi, atau berbagai persoalan lainnya. Kepedulian semacam ini membuat hubungan sosial tidak berhenti pada hubungan formal, tetapi berkembang menjadi rasa kebersamaan.

Dalam banyak masyarakat tradisional, solidaritas merupakan mekanisme penting untuk menjaga keberlangsungan komunitas. Pemikiran mengenai solidaritas sosial bahkan menjadi salah satu pembahasan penting dalam ilmu sosiologi klasik. Émile Durkheim, sosiolog Prancis, melalui kajiannya mengenai solidaritas mekanik dan organik, menjelaskan bahwa masyarakat dapat memiliki ikatan yang membuat individu merasa menjadi bagian dari keseluruhan sosial. Walaupun teori Durkheim tidak secara khusus membahas pacce dalam kebudayaan Bugis, konsep tersebut membantu memberikan kerangka akademik untuk memahami mengapa nilai kebersamaan dan solidaritas dapat menjadi kekuatan penting dalam mempertahankan integrasi masyarakat.

Dalam konteks Bugis, pacce dapat terlihat dalam praktik sosial yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk membantu keluarga yang sedang mengalami musibah, hadir dalam kegiatan sosial, bekerja bersama menyelesaikan persoalan komunitas, serta memberikan dukungan ketika seseorang menghadapi keadaan sulit. Bentuknya tidak selalu harus berupa bantuan material karena perhatian, tenaga, kehadiran, dan dukungan moral juga dapat menjadi wujud pacce. Karena itu, pacce sebetulnya memiliki dimensi yang sangat relevan dengan kehidupan modern ketika masyarakat semakin sering menghadapi persoalan individualisme dan keterasingan sosial.

Nilai pacce juga menunjukkan bahwa identitas seseorang tidak sepenuhnya dibangun melalui pencapaian pribadi. Manusia dipandang sebagai bagian dari jaringan hubungan sosial yang membuat kebahagiaan maupun penderitaan seseorang dapat dirasakan oleh lingkungan sekitarnya. Dalam konteks tersebut, siri’ na pacce menghadirkan keseimbangan yang menarik: siri’ mengajarkan seseorang untuk memiliki kehormatan, sedangkan pacce mengajarkan bahwa kehormatan tersebut harus berjalan bersama kepedulian terhadap manusia lain. Inilah salah satu alasan mengapa konsep tersebut tetap memiliki relevansi meskipun kehidupan masyarakat Bugis telah mengalami perubahan besar.
 
Siri’ Na Pacce Bukan Sekadar Tradisi, tetapi Sistem Nilai Kehidupan
Salah satu kekeliruan dalam memahami siri’ na pacce adalah menganggapnya hanya sebagai semboyan atau istilah budaya yang digunakan dalam acara adat. Padahal, nilai tersebut dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk keluarga, pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, kepemimpinan, hingga kehidupan bermasyarakat. Nilai budaya menjadi kuat bukan karena sering diucapkan, tetapi karena diterapkan dalam keputusan sehari-hari. Dalam konteks itulah siri’ na pacce dapat dilihat sebagai semacam pedoman etis yang membantu seseorang menentukan bagaimana seharusnya ia bersikap.

Kajian mengenai budaya Bugis juga tidak dapat dilepaskan dari pangngadereng, yaitu sistem norma dan tata kehidupan yang secara tradisional mengatur perilaku masyarakat Bugis. Dalam literatur mengenai kebudayaan Bugis, pangngadereng sering dibahas sebagai kerangka nilai yang mencakup berbagai unsur kehidupan sosial, termasuk ade’, bicara, rapang, wari’, dan kemudian sara’ setelah masuknya Islam. Dalam kerangka tersebut, siri’ memiliki hubungan dengan bagaimana manusia menjalankan kehidupan sesuai dengan norma dan kehormatan yang diakui masyarakat. Artinya, siri’ bukan nilai yang berdiri di ruang kosong, melainkan menjadi bagian dari sistem sosial dan kebudayaan yang lebih luas.

Dokumen dan kajian akademik mengenai kebudayaan Bugis juga memperlihatkan bahwa nilai-nilai tersebut mengalami proses perubahan seiring perkembangan zaman. Modernisasi, pendidikan, urbanisasi, perkembangan teknologi, serta perubahan struktur ekonomi membuat masyarakat Bugis tidak lagi hidup dalam kondisi sosial yang sama seperti masa lalu. Akan tetapi, perubahan bentuk kehidupan tidak selalu berarti hilangnya nilai budaya karena nilai dapat mengalami reinterpretasi. Siri’ misalnya, dapat diterjemahkan dalam kehidupan modern sebagai integritas, tanggung jawab, profesionalisme, dan kemampuan menjaga nama baik melalui perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan.

Hal yang sama berlaku bagi pacce. Di tengah masyarakat modern yang semakin terkoneksi melalui teknologi digital, pacce dapat diterjemahkan sebagai kepedulian sosial, solidaritas, dan kesediaan membantu kelompok yang mengalami kesulitan. Bahkan, media sosial dapat menjadi ruang baru untuk memperlihatkan nilai tersebut melalui penggalangan bantuan, penyebaran informasi mengenai orang yang membutuhkan pertolongan, atau mobilisasi masyarakat ketika terjadi bencana. Dengan demikian, siri’ na pacce tidak harus hilang ketika zaman berubah; yang berubah adalah cara nilai tersebut diwujudkan.
 
Hubungan Siri’ Na Pacce dengan Pendidikan Karakter
Nilai siri’ na pacce juga mempunyai relevansi yang kuat dengan pendidikan karakter karena keduanya menekankan pembentukan manusia yang memiliki tanggung jawab moral. Siri’ dapat dikaitkan dengan nilai integritas, tanggung jawab, disiplin, kejujuran, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Sementara pacce memiliki kedekatan dengan empati, kepedulian, gotong royong, solidaritas, dan kesediaan membantu orang lain. Jika diterapkan secara tepat, keduanya dapat menjadi sumber pembelajaran karakter yang berasal dari kebudayaan lokal.

Gagasan tersebut sejalan dengan perkembangan pemikiran pendidikan internasional mengenai character education. Salah satu tokoh yang banyak berpengaruh dalam bidang tersebut, Thomas Lickona, menekankan bahwa pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan mengetahui nilai yang baik, tetapi juga mencintai kebaikan dan mewujudkannya dalam tindakan. Perspektif tersebut dapat dipertemukan dengan siri’ na pacce karena siri’ tidak berhenti pada pengetahuan mengenai kehormatan, sementara pacce tidak berhenti pada perasaan kasihan. Keduanya memiliki dimensi tindakan: seseorang diharapkan menjaga perilakunya sekaligus melakukan sesuatu yang menunjukkan kepeduliannya terhadap orang lain.

Dalam lingkungan keluarga, misalnya, orang tua dapat memperkenalkan siri’ bukan sebagai ancaman bahwa anak akan "dipermalukan" apabila melakukan kesalahan, tetapi sebagai kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi moral. Anak dapat diajarkan untuk berkata jujur, bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan, menghormati orang lain, dan tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Pada saat yang sama, pacce dapat diperkenalkan melalui kebiasaan berbagi, membantu anggota keluarga, menghargai orang yang sedang mengalami kesulitan, dan tidak menertawakan penderitaan orang lain.

Pendekatan tersebut juga penting di sekolah karena pendidikan budaya lokal seharusnya tidak hanya berhenti pada hafalan istilah. Peserta didik perlu memahami mengapa suatu nilai muncul, bagaimana nilai itu diterapkan, dan bagaimana nilai tersebut dapat diterapkan tanpa bertentangan dengan prinsip hukum dan hak asasi manusia. Dengan cara demikian, siri’ na pacce tidak menjadi peninggalan budaya yang hanya dibicarakan dalam pelajaran muatan lokal, tetapi dapat berkembang menjadi nilai karakter yang hidup dalam perilaku generasi muda.
 
Apakah Siri’ Na Pacce Masih Relevan di Zaman Modern?
Pertanyaan mengenai relevansi siri’ na pacce menjadi semakin menarik ketika masyarakat Bugis hidup dalam lingkungan sosial yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Generasi muda kini berinteraksi melalui media sosial, bekerja di berbagai daerah dan negara, berhadapan dengan budaya global, serta memiliki cara komunikasi yang jauh lebih cepat. Dalam kondisi tersebut, nilai budaya tidak mungkin dipertahankan hanya dengan mengulang bentuk-bentuk lama tanpa memahami substansinya. Yang perlu dipertahankan adalah nilai dasarnya, sementara cara penerapannya dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Siri’ misalnya, dapat diterapkan dalam dunia profesional melalui sikap menjaga integritas, tidak melakukan penipuan, menghormati kesepakatan, mengakui kesalahan, dan menjaga kepercayaan orang lain. Dalam dunia pendidikan, siri’ dapat diwujudkan dengan menghindari plagiarisme dan kecurangan karena seseorang menyadari bahwa prestasi tanpa kejujuran tidak mencerminkan kehormatan. Dalam kehidupan digital, siri’ juga dapat menjadi pengingat agar seseorang tidak menyebarkan fitnah, mempermalukan orang lain, melakukan perundungan, atau membuat konten yang merendahkan martabat manusia.

Pacce pun memiliki ruang yang sangat luas dalam kehidupan modern. Ketika seseorang melihat korban bencana, masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, atau orang yang mengalami kesulitan, pacce dapat diwujudkan melalui bantuan konkret sesuai kemampuan. Bahkan dalam ruang digital, pacce dapat diwujudkan melalui penggunaan media sosial secara bertanggung jawab dan membantu menyebarkan informasi yang benar kepada mereka yang membutuhkan. Dalam konteks ini, pacce bukan berarti seseorang harus menyelesaikan semua persoalan orang lain, tetapi menunjukkan bahwa penderitaan orang lain tidak dianggap sebagai sesuatu yang sama sekali tidak berkaitan dengan dirinya.

Yang paling penting, pemaknaan modern terhadap siri’ na pacce harus menghindari penyederhanaan bahwa kehormatan hanya dapat dipertahankan dengan menghadapi penghinaan melalui kekerasan. Kehormatan justru dapat ditunjukkan melalui kemampuan mengendalikan diri, menyelesaikan konflik secara bermartabat, menggunakan jalur hukum ketika hak dilanggar, serta tetap menghormati hak orang lain. Dengan pemahaman tersebut, siri’ na pacce tidak menjadi nilai masa lalu yang bertentangan dengan masyarakat modern, melainkan dapat menjadi sumber etika lokal yang justru relevan dengan tantangan kehidupan kontemporer.
 
Mengapa Siri’ Na Pacce Penting Dipahami oleh Generasi Muda Bugis?
Generasi muda merupakan kelompok yang paling menentukan apakah sebuah nilai budaya akan bertahan atau perlahan kehilangan makna. Jika siri’ na pacce hanya dikenalkan sebagai istilah tanpa penjelasan mengenai filosofi dan konteks sejarahnya, generasi muda mungkin mengenalnya secara verbal tetapi tidak memahami alasan mengapa masyarakat terdahulu menganggapnya penting. Sebaliknya, apabila nilai tersebut dijelaskan melalui pengalaman kehidupan sehari-hari, generasi muda dapat menemukan bahwa konsep yang diwariskan leluhur ternyata masih memiliki hubungan dengan persoalan modern seperti integritas, solidaritas, tanggung jawab, dan etika bermedia sosial.

Pemahaman yang baik juga membantu generasi muda membedakan antara nilai budaya dan tindakan yang mengatasnamakan budaya. Tidak setiap tindakan yang diklaim sebagai pembelaan siri’ otomatis sesuai dengan makna siri’ yang sesungguhnya. Kehormatan tidak dapat dijadikan alasan untuk merampas hak orang lain, melakukan kekerasan, atau mengabaikan hukum. Justru, semakin matang pemahaman seseorang terhadap siri’, semakin besar pula tuntutan agar ia mampu menunjukkan kehormatan melalui perilaku yang bertanggung jawab.

Di sisi lain, pacce mengajarkan generasi muda bahwa keberhasilan tidak hanya diukur berdasarkan pencapaian individual. Seseorang dapat memiliki pendidikan tinggi, karier bagus, atau kehidupan ekonomi yang mapan, tetapi tetap membutuhkan lingkungan sosial yang sehat. Kepedulian terhadap keluarga, teman, tetangga, dan masyarakat menjadi bagian penting dari kehidupan manusia. Dalam konteks ini, pacce dapat menjadi penyeimbang terhadap kecenderungan individualisme yang semakin kuat dalam masyarakat modern.

Karena itu, menjaga siri’ na pacce tidak berarti menolak modernisasi atau menutup diri dari budaya lain. Melestarikan nilai budaya justru berarti mampu membawa inti nilai tersebut ke dalam kehidupan baru tanpa kehilangan makna dasarnya. Generasi muda Bugis dapat tetap menjadi bagian dari masyarakat global sekaligus membawa identitas budaya yang kuat melalui kejujuran, tanggung jawab, solidaritas, keberanian berbuat benar, dan kepedulian terhadap sesama.
 
Siri’ Na Pacce dalam Budaya Bugis Sangat Penting
Siri’ na pacce merupakan konsep nilai yang menggabungkan kehormatan pribadi dengan kepedulian sosial. Siri’ mengajarkan manusia untuk menjaga martabat, kejujuran, tanggung jawab, dan integritas, sedangkan pacce mengajarkan empati, solidaritas, serta kesediaan merasakan dan membantu penderitaan orang lain. Keduanya tidak seharusnya dipahami sebagai dua konsep yang terpisah, karena kekuatan siri’ na pacce justru terletak pada keseimbangan antara kemampuan menjaga diri dan kemampuan menghargai orang lain.

Kajian Christian Pelras mengenai masyarakat Bugis membantu memperlihatkan bahwa siri’ tidak dapat dipisahkan dari sistem nilai dan struktur sosial masyarakat Bugis, sementara pemikiran Émile Durkheim tentang solidaritas dan Thomas Lickona tentang pendidikan karakter dapat menjadi perspektif akademik pembanding untuk memahami mengapa nilai kehormatan, tanggung jawab, empati, dan solidaritas mempunyai fungsi penting dalam kehidupan sosial. Berbagai kajian kebudayaan Bugis mengenai pangngadereng juga menunjukkan bahwa siri’ berada dalam jaringan nilai yang lebih luas dan tidak semestinya dipahami secara terpisah dari norma kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, siri’ na pacce bukan sekadar ungkapan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia dapat dipandang sebagai warisan etika yang terus memperoleh makna baru sesuai perkembangan masyarakat. Ketika siri’ diwujudkan melalui integritas dan tanggung jawab, sementara pacce diwujudkan melalui empati dan solidaritas, keduanya dapat menjadi kekuatan moral yang tetap relevan bagi masyarakat Bugis di tengah perubahan zaman.

Yang paling penting adalah memahami bahwa menjaga siri’ tidak berarti harus menyakiti orang lain, dan memiliki pacce tidak berarti kehilangan harga diri. Justru, keduanya dapat berjalan bersama: seseorang dapat mempertahankan kehormatannya dengan cara yang bermartabat sekaligus tetap memiliki hati untuk merasakan kesulitan sesamanya. Di situlah letak salah satu kekuatan terbesar siri’ na pacce sebagai nilai budaya Bugis kehormatan manusia tidak hanya terlihat dari bagaimana ia membela dirinya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan manusia lain.

Penulis : Andi Syamsiah Patawari

أحدث أقدم